Akhirnya Aku Memiliki "Teman"

Hari-hari yang selalu terlihat ramai tetapi tidak untukku. Aku merupakan seorang mahasiswa universitas swasta di Tangerang Selatan. Aku termasuk orang yang pendiam di kelas dan aku juga tidak memiliki seorang teman di tempatku kuliah sekarang ini. Mungkin karena sifatku yang introvert. Walaupun aku sudah hampir 2 tahun menetap di kota ini, aku masih belum terbiasa dengan lingkungan dan bahasa yang digunakan di kota besar.

Penyebab aku susah untuk mendekat dengan orang yaitu karena aku mempunyai masalah dalam berteman di masa lalu. Saat di kelas pun aku lebih memilih tempat duduk paling belakang agar aku bisa tidur dan menghindar untuk bersosial dengan teman sekelas.


(Image Credit : MS)


Sebenarnya bukannya aku tidak mau berteman, aku hanya takut untuk mempercayai yang namanya teman. Aku mengingat betul saat sekolah dulu hal yang sama selalu terjadi padaku setiap tahunnya.

Mereka orang-orang yang aku anggap sebagai teman, orang-orang yang aku usahain untuk menolong disaat mereka butuh, orang-orang yang aku utamakan kepentingannya daripada kepentinganku, aku melakukan itu semua karena aku senang melihat wajah teman-temanku terlihat bahagia.

Tetapi wajah bahagia yang selama ini aku lihat itu ternyata bukanlah wajah asli mereka. Mereka hanya memakai topeng bahagia untuk mendekatiku. Topeng yang begitu sempurna menutupi wajah asli mereka, topeng yang bisa menutupi aura busuk mereka.

Di belakangku mereka melepaskan topeng itu dan memperlihatkan wajah asli mereka. Mereka selalu membicarakan hal-hal buruk tentangku, menceritakan yang aku sendiri tidak tahu alasan mereka mengarang itu semua dan menyebarkan ke orang-orang di kelas lain. Sehingga beberapa orang menjauh dan tidak mengajakku mengobrol.

Aku yang tidak tahu niat teman-temanku dari awal, mengabaikan orang-orang yang menjauhiku itu. Aku menganggap mungkin mereka merasa tidak cocok berteman denganku, dan aku rasa itu hal yang wajar bagi semua orang.

Tapi ada salah satu di antara mereka yang menjauhiku yang mungkin merasa kasihan karena pertemananku itu hanya melibatkan satu pihak saja mencoba memberitahuku alasan orang-orang berbicara buruk tentangku. Dengan bukti chat yang di kirim ke semua orang. Melihat itu, pikiranku menjadi kosong dan pandanganku seketika gelap. Orang yang selalu menanyakan mengapa aku terluka, ternyata luka itu disebabkan oleh mereka orang-orang yang aku anggap teman lah yang memberikan luka tersebut.

Aku selalu bertemu orang-orang seperti itu setiap tahunnya. Manusia yang paling menakutkan, manuasia yang menyembunyikan sifat busuknya dengan sempurna dan menyerang dengan wajah palsu. Penghianatan yang paling menakutkan yaitu dihianati oleh seorang teman yang aku percaya selama ini. Mereka menggunakan rahasiaku dan menambahkan bumbu kebohongan untuk menghancurkanku. Aku masih belum paham tujuan semua ini.

Mereka selalu meninggalkanku saat ujian akhir selesai, apakah mereka memanfaatkanku untuk sebuah kunci jawaban ujian? atau karena uang? atau karena aku orang yang mudah dijadikan bahan mainan? Aku tampak bodoh bukan? selalu mendapat kejadian yang sama berulang kali. Aku hanya sebagai pelengkap, sebagai mainan, sebagai alat yang jika tujuan mereka sudah tercapai maka alat itu akan dibuang dan akan menjadi rongsokan.

Tetapi untuk sekarang aku sudah mempunyai teman yang tidak memanfaatkanku dan aku tidak perlu merasa kesepian lagi. Mungkin orang-orang menganggap makhluk ini tidak bisa disebut teman karena tinggal di dunia yang berbeda dengan kita. Tapi yang aku tahu, dia selalu menemaniku setiap saat. Dia selalu muncul menatapku dengan mata besarnya dan mempunyai senyum lebar tanpa menggunakan wajah palsu seperti manusia yang aku kenal sebelumnya.


 (Image Credit : MS)


============================

Awal cerita aku bertemu makhluk ini yaitu 2 tahun yang lalu di saat aku dan keluargaku baru pindah ke ibu kota. Kami tinggal di kontrakan disebuah kompleks yang memiliki banyak gang dan rumah.


(Image Credit : Erlina)

Kontrakan yang aku tempati memiliki 2 lantai dan 4 ruang kamar. Dan kamarku berada di lantai 2 dengan ada balkon di depannya yang menghadap rumah tetangga. Kamar ini memiliki ukuran kurang lebih 4 x 4.


 (Image Credit : MS)


Kamar yang selalu aku impikan karena aku dapat menggunakannya sendiri. Aku senang dengan kamar ini karena sebelumnya aku harus berbagi kamar dengan 3 saudaraku.

Aku sangat bersemangat dan langsung menata barang-barangku di dalam kamar dan membersihkan kamarku dari serangga. Kata pemilik rumah, rumah ini sudah tidak ditempati selama 5 tahun. Tidak heran banyak sarang laba-laba dan serangga disetiap sudut ruangan.

Aku mulai merapikan semuanya. Posisi kasurku berada pada dekat jendela dan disebelah kanan kasurku terdapat gitar listrik dan juga ampli gitar. Di sebelah kanan gitar terdapat meja yang menghadap jendela. Di atas meja ada printer, laptop dan buku-buku. Dan di sebelah kanan meja ada pintu kamar yang menghadap jendela juga.

Karena terlalu fokus dengan merapikan kamarku, tidak terasa aku membersihkan kamarku sampai selarut ini. Cahaya langit sudah memudar dan digantikan dengan langit gelap dan mendung. Aku mengakhiri membersihkan kamarku, karena paginya aku harus pergi untuk mengikuti pendaftaran kuliah.


 (Image Credit : MS)


Aku segera mematikan lampu dan langsung melompat ke kasur. Karena aku baru pindah, aku belum memakai tempat tidur jadi kasurku berada langsung di atas lantai. Sehingga kalau aku melompat pun tidak akan masalah.

Aku mencoba untuk tidur tetapi mata ini tidak bisa diajak kerjasama, suasana ruangan ini masih terasa asing untukku sehingga aku tidak bisa tidur. Aku memutuskan untuk bermain musik sebentar agar membuatku bisa lebih cepat mengantuk.

Aku melihat sekeliling ruangan mencari alat musik terdekat denganku. Karena gitar listrik yang paling dekat di sebelahku, aku memainkan gitar listrik itu. Aku menyalakan ampli gitar dan mulai bermain beberapa lagu.

Setelah 10 menit aku bermain, aku memutuskan untuk segera tidur karena cuaca yang tiba-tiba dingin dan aku juga mulai mengantuk. Aku tidur sambil membuka jendela agar debu-debu di dalam kamar bisa keluar. Aku mencabut semua kabel stop kontak barang elektronik kecuali kabel kipas angin sebelum tidur.


(Image Credit : MS)


Aku mulai mencoba untuk tidur dengan menghadap ke jendela dan membelakangi mejaku dan pintu. Di saat aku mencoba menutup mata, tiba-tiba printer di atas meja di sebelah ampli gitarku itu menyala dan sedang mengeprint sesuatu. Aku sangat kaget dan langsung segera bangun, aku buru-buru menekan tombol batal pada printerku.

Printer langsung berhenti dan sebuah kertas keluar dari printerku. Kertas dengan sebuah bercak hitam tak berbentuk. Aku langsung merobek kertas itu dan membuang ke tempat sampah.

Aku mencoba bersikap tenang, dan aku mulai berpikir itu semua mungkin karena sisa listrik dari stop kontak yang aku cabut tadi.

Aku mulai mencoba tidur lagi di kasurku dan membelakangi lagi meja yang ada di kamar. Tetapi lagi-lagi mataku terbuka karena mendengar suara noise dari ampli gitar atau suara “bzzzzz” dari ampli gitarku seperti suara ampli yang sedang dinyalakan. Aku segera bangun dan mengecek ampli gitarku, aku mulai merinding saat melihat lampu ampli gitarku yang mati tetapi terdengar ampli gitar yang masih menyala dan perlahan suara itu menghilang.

Aku sadar ternyata suara gitar yang tadi aku buat itu tidak hanya aku yang dengar. Suara ini menarik mahkluk lain.

Aku mencabut kabel jack yang masih menyambung antara gitar dan ampliku. Tetapi disaat aku baru memegang kabel jack gitar, tiba-tiba badanku berhenti bergerak karena mendengar suara yang lirih memanggilku. Aku merasa ada sesuatu di pojok atas kamarku, terasa dingin dan juga bau yang menyengat. Bau yang tidak aku suka sama sekali.

Aku mencoba melihat dengan ujung ekor mataku, aku begitu kaget melihatatnya. Telingaku berdengung seketika dan bulu kudukku berdiri semua. Di ujung ruangan, makhluk yang terselimuti kegelapan di sana dan tanpa sadar mataku sudah bertatapan dengan mata makhluk tersebut.

Mahkluk yang memiliki badan besar dan tinggi yang melewati tinggi pintuku itu. Mahkluk itu terus mengeluarkan suara lirih memanggilku dan seperti ingin menyampaikan sesuatu dengan mulut yang selalu tersenyum dengan gigi yang besar.

Mata yang aku lihat itu membuatku keringat dingin, tatapan mata dengan warna merah besar dan mata kanan yang sudah menggantung ke luar. Aku langsung melompat ke kasurku dan langsung menggunakan earphone-ku mendengarkan musik dengan volume yang besar. Aku berusaha menghilangkan rasa takutku dan mengalihkan perhatianku terhadap mahkluk yang terus bersuara itu.



(Image Credit : MS)

Aku tidak tahu sudah berapa lagu yang aku dengar, tanpa sadar matahari secara perlahan sudah terlihat dan aku tidak tidur sama sekali. Aku mencoba membalikkan badanku untuk melihat apakah itu hanya halusinasi atau bukan.

Aku menghela nafas lega karena mahkluk itu tidak ada, sepertinya memang itu hanya halusinasi saja. Halusinasi karena aku capek merapikan kamarku kemarin, sehinnga muncul halusinasi-halusinasi kemarin.

Kejadian semalam membuatku haus. Aku langsung berlari ke dapur di lantai bawah untuk mengambil minum. Di saat manuruni tangga makhluk itu ternyata muncul dan melihatku sambil tersenyum dari bawah.

“Ahh ternyata itu bukan halusinasi.” Aku mengatakan itu sambil menatap mata merahnya.

============================

Itu merupakan awal mula aku dan mahkluk besar itu selalu bersama. Aku sudah mulai terbiasa dengan wajah yang rusak itu. Terkadang mahkluk besar itu muncul di depan adik-adikku dengan memperlihatkan mata merahnya saja di pintuk kamar.

Aku tidak menceritakannya masalah ini ke keluargaku maupun orang lain. Jadi, jika mereka melihatnnya, aku lebih memilih diam dan mendengarkan ceritanya.

Mimpi buruk ini masih terus berlanjut sampai sekarang. Aku sudah mencoba tinggal sendiri di kos, tinggal di rumah saudara bahkan saat aku berlibur di luar kota pun makhluk besar itu terus muncul di hadapanku.

Karena aku mulai lelah dengan semua ini, aku mulai membiasakan diri dengan mahkluk besar itu. Aku menyebutnya “teman” karena mahkluk itu selalu mengikutiku ke mana saja. Aku terus berpikir apakah mahkluk dari dunia seberang seperti ini ingin berteman dengan kita atau malah sebaliknya.

Melihat “teman” besarku ini membuatku menjadi seperti sedang berhalusinasi tentang teman. Dan halusinasiku ini mulai berlebihan, terkadang aku malah mengobrol dengan mahkluk besar itu dengan menceritakan apa yang terjadi di kampus atau bahan obrolan yang lainnya.


(Image Credit : MS)


Mimpi buruk ini semakin buruk. Malam itu dalam suasana sunyi, aku menjadi bisa melihat semua makhluk di sekitarku dan bukan hanya satu mahkluk saja, semakin banyak mahkluk yang menunjukkan wujudnya di dalam kamarku dan terus mengunjungiku setiap malam. Entah alasan apa yang membuat mereka mengunjungiku.

Hahaha sekarang aku sudah tidak tau lagi suara yang aku dengar itu berasal dari halusinasi pikiranku, dari dunia lain atau dari dunia nyata.

Aku tidak mempermasalahkannya mereka berada di dekatku, sekarang aku mengganggap mimpi buruk ini bukan lagi buruk tetapi bisa menjadi mimpi yang indah. Mungkin semua “teman-teman” ini datang ke kehidupanku hanya ingin diakui keberadaannya atau mungkin ingin bermain denganku dan bisa melupakan kejadian di masa lalu kami. Aku sudah tidak takut lagi dengan makhluk dari dunia seberang. Aku bisa menerima bentuk maupu wajah mereka yang sudah tidak sempurna itu.

Aku merasa senang dengan kehadiran mereka. Aku tidak peduli ini halusinasi atau memang makhluk dari dunia lain. Tetapi yang aku tau “teman-teman”-ku ini tidak ada niat buruk terhadapku atau melukai keluargaku dan teman-temanku. Mereka tidak pernah menghianatiku seperti manusia-manusia yang aku kenal, mereka selalu bersamaku bahkan dia masih setia menemaniku. Berdiri di belakangku untuk menulis cerita ini dengan senyum lebar di mulutnya, dan aku senang kini aku tidak merasa sendiri lagi. Terima kasih untuk “teman”-ku yang berharga.