Dendam - Chapter 2: Perjalanan Yang Tidak Terduga

Sudah hampir seminggu aku menjadi murid disekolah ini, seperti biasa kelasku ini sangat sunyi ketika jam pelajaran tetapi sangat ribut saat di kantin jam istirahat.

“Sekolah itu sebenarnya sangat mengasyikan, kalau saja tidak ada yang namanya PR, benarkan Rana?”, suara yang membuyarkanku dari lamunanku. Itu suara Lila.

“Kau benar sepertinya PR kita ini terlalu banyak, nih kamu kerjain sebagian PR-ku ini.” Sambil tertawa aku memberikan bukuku ke Lila.

“Ngomong-ngomong kamu sudah dengar tentang lokasi tujuan study tour kita besok?” Lila menatapku sambil mengembalikan buku yang aku kasih tadi.

“Hmm.. Aku belum dengar lokasinya di mana.”

“Aku dengar lokasi study tour kali ini di luar kota. Dan nama kotanya aku sih belum tau pastinya di mana.” Lila menjelaskannya.

Setahuku study tour kali ini dilaksanakan karena untuk menghilangkan stres murid-murid di kelas sebelum ujian akhir karena salah satu teman kelas kita ada yang meninggal secara misterius yang mengakibatkan ketakutan dan juga trauma teman-teman di kelas ini.

“Kita tunggu saja besok saat study tour di mulai, mungkin akan dijelaskan kita akan ke mana.” Lila setengah tidak yakin.

Yaa aku tunggu aja besok untuk mendapatkan informasi lebih tentang study tour ini.

Wali kelas pun masuk, sekarang kan bukan jam pelajarannya mungkin dia ingin menjelaskan tetang study tour besok. Pak Roni memasuki kelas sambil memasang senyum cerah.

“Selamat pagi anak-anak, hari ini bapak ingin menjelaskan secara singkat tentang study tour besok.”

“Nah kan pasti membahas tentang itu.” secara refleks aku mengatakan ini, semua teman-teman melihatku sambil tersenyum geli.

“Iya Rana sebentar yaa bapak jelasin dulu.” pak Roni mengatakannya sambil tersenyum.

“Jadi study tour untuk besok kita akan membagi kelompok hari ini. Pembagian kelompok akan dibagi dengan cara kalian maju satu-satu terus ambil satu kertas yang ada di dalam kotak ini. Di dalam kotak ini terdapat kertas-kertas yang bertuliskan kelompok 1 sampai kelompok 7.” Pak Roni menjelaskan.

“Jadi Pak, kita tidak bisa memilih sendiri kelompoknya?”salah satu murid protes.

Pak Roni tersenyum, “Iya. Karena menurut bapak pemilihan kelompok dengan cara begini itu yang paling adil, jadi kalian bisa lebih dekat dengan semua teman-teman di kelas.”

Aku melihat sekeliling kelas, sepertinya mereka tidak suka dengan cara pemilihan kelompok ini. Kalau aku sekelompok dengan siapa aja tidak masalah, dekat dengan orang baru juga tidak terlalu buruk.

“Baiklah anak-anak, sekarang kalian maju satu-satu untuk mengambil kertas dalam kotak ini. Di mulai dari depan. Saya harap kalian bisa cocok satu sama lain.”

Pak Roni mulai menaruh kotak yang berisi kertas-kertas kelompok pada mejanya.

Tiba saatnya aku mengambil kertas di dalam kotak itu, setelah aku mangambilnya aku langsung membukanya dan membacanya. Aku mendapatkan kelompok 3, aku sekelompok dengan Lila, Anna si ketua kelas, dan juga Kevin si anak populer di sekolah ini.

Anna si ketua kelas yang pintar,  dengan rambut yang diikat ponytail dan juga memakai kacamata membuat kesan pintarnya keliatan.

Lalu ada Kevin si anak populer di sekolah ini. Kevin bisa dibilang anak olahragawan banget, dia sering mengikuti turnamen-turnamen antar sekolah dengan rambut yang berwarna coklat gelap dan memiliki alis yang tebal dan terlihat sangat serasi dengan rambutnya.

Ini membuatku sedikit kaget karena aku bisa sekelompok dengan orang-orang populer di kelas. Jumlah murid di kelas terdapat 28 murid, jadi setiap kelompok terdapat 4 anggota. Aku jadi tidak sabar menunggu besok.

Keesokan harinya 5 bus sudah mengumpul di lapangan sekolah, di sekolah terdapat 5 kelas untuk kelas 12-nya. Jadi 1 bus akan diisi oleh 1 kelas. Tetapi saat aku tiba di sekolah hanya terdapat 1 bus saja, yaa aku terlambat untuk ngumpul di lapangan sekolah. Karena ada urusan sebentar aku jadi terlambat, sudah hampir 1 jam aku terlambat.

“Rana kamu dari mana saja?, kita semua sudah menunggu kamu dari tadi.” tanya salah satu teman kelasku.

“Hehehe maaf tadi aku ada urusan sebentar.” aku tersenyum canggung.

“Nih sekarang kamu pake gelang ini, katanya gelang ini wajib dipakai selama study tour ini.” 

Gelang ini terbuat dari stainlees yang berwarna hijau, terdapat sebuah kotak yang memanjang mengikuti lekukan gelang, apakah ini terdapat GPS agar para murid yang hilang bisa ditemukan kembali. Yaa mungkin fungsinya seperti itu agar mempermudah guru-guru untuk mencari murid-murid yang hilang. Semua yang di dalam bus ini menggunakannya, termasuk Pak Roni dan juga supir bus.

“Nahh akhirnya Pak Andre datang juga, ayo cepat pak kita sudah ketinggalan bus lain.” Pak Roni mempersilahkan Pak Andre masuk.

Ternyata bukan aku saja yang terlambat, perasaan lega karena tidak sepenuhnya kesalahanku bus kelas jadi terlambat hehehe.

Aku duduk di kursi belakang dengan Lila, kita asyik tertawa sejak bus meninggalkan lapangan sekolah. Suasana kali ini berbeda dengan di kelas, semuanya sangat antusias. Mereka tertawa lepas seperti sudah tidak ada yang mengikat mereka lagi.

Aku mendengar pembicaraan Pak Roni dan Pak Andre yang memberi saran ke supir bus untuk menggunakan jalan pintas untuk mengejar bus kelas lain. Perjalanan kita ke lokasi study tour kali ini akan memakan waktu 8 jam, mungkin itu penyebabnya mereka menyarankan untuk mengambil jalan pintas agar tidak kemalaman kita sampai ke lokasi.

Jalan pintas itu melewati sisi tebing gunung, cuaca yang tadinya cerah tiba-tiba berubah menjadi mendung seperti memberikan pesan kita tidak seharusnya lewat sini. Pandangan di depan bus menjadi gelap tertutup kabut, hampir tidak terlihat jalan di depan.

Kejadian yang kita takutkan pun terjadi, bus menabrak palang besi yang membatasi jalan raya dengan jurang dan bus pun jatuh ke jurang.

Aku setengah tersadar langsung segera berdiri membuat kepalaku sakit. Terdapat luka di tanganku yang diakibatkan dari serpihan kaca bus yang pecah dan mengenaiku. Aku melihat sekelilingku, semua yang di dalam bus belum ada yang bangun. Membuatku panik dan segera membangunkan orang yang ada didekatku. Aku harap mereka semua selamat.